"Ketika dua orang yang saling menyayangi tinggal bersama,
lalu terbiasa satu sama lain,
Saat waktu berpisah, kau tidak dapat meninggalkan kebiasaan maupun perasaan itu"
-Ok Jaanu
Peran Sempurna
Langit menghitam saat mataku menatap keluar jendela. Cuaca suram seperti biasa. Sebentar lagi hujan turun. Jalanan sepi, sesekali dua atau tiga kendaraan melintas.
Mataku tak kunjung lelah. Seharusnya aku manfaatkan waktuku untuk istirahat walau aku sudah bosan diatas ranjang selama 5 hari ini. Suhu tubuhku meninggi. Kepalaku seperti tertusuk berkali-kali. Obat yang ku beli sepertinya tak mampu meredakan rasa sakit pada kepala dan demam yang masih berkunjung di malam hari.
Sebenarnya rasa sakit terparah yang aku rasakan ada pada dalam dada dan pikiranku. Tersiksa lebih parah dari sebelumnya. Katakan saja berlebihan, aku tidak peduli. Toh, mereka juga tidak mempedulikanku seperti dirimu yang kini jauh dari jangkauan ragaku.
Coba ku tebak, mungkin kau saat ini sedang bersenang-senang, tertawa bahagia dengan senyum dan keramahan palsumu pada mereka yang mengagumimu. Jika saja mereka tahu. Jika saja mereka melihat wajah asli dirimu yang aku ketahui, di samping sikap lembut bak madu yang mampu menarik siapapun untuk mengikutimu. Tanpa kau sadari kau bertindak dengan ego yang tinggi, termakan amarah, lalu berperan sebagai korban jika lawanmu melakukan sesuatu yang kau sebut kejahatan. Sungguh manipulatif. Peran yang sempurna untuk seseorang yang selalu ku tinggikan. Seseorang yang selalu ku puja. Seseorang yang selalu ku inginkan. Seseorang yang selalu ku butuhkan. Ironisnya, seseorang yang selalu ku cinta hingga detik ini.
Susah sekali menyingkirkanmu dari pikiranku. Susah sekali membencimu. Pion pada papan caturku mulai kau habisi. Kau tetap bermain hingga aku hancur tanpa secuil kesempatan bagiku untuk membangun harga diri kembali. Bahkan hingga saat ini kau tetap menjadi pemenang. Berpegang teguh pada keangkuhan dan selalu menyalahkanku atas bomerang yang kau ciptakan sendiri. Ikut andil besar dalam kerusakan, tapi tentu saja peran yang sempurna bagi dirimu yang selalu ingin kesempurnaan.
Malam membuka luka. Diusir dari rumah sendiri. Berkelana tanpa tujuan. Kegelapan mulai merasukiku. Mereka bilang, sakit bisa disembuhkan oleh waktu. Tapi aku tidak ingin disembuhkan. Aku ingin merasakan kepedihan yang kau beri berulang kali. Kebahagiaan yang kau taburkan berulang kali. Kenangan manis ataupun pahit. Akan aku genggam bersama untuk mengingat semuanya. Biarpun aku jatuh hingga tersisa hanya seuntai benang tipis aku akan coba meraihnya untuk mencintai dan membenci dirimu. Biarpun aku menggapai bayangan semu, aku akan coba memeluknya untuk mencintai dan membenci dirimu. Karena itu yang akan aku lakukan. Karena itu yang akan dilakukan oleh seseorang yang kosong tanpa harapan.
Lihat itu ditengah gelapnya lorong mimpi buruk, dengan mata yang indah penuh kenangan, kau tertawa nyaring. Terlihat puas melihat sosok diriku yang terbakar kesedihan.
-hujan, petir, dan guntur bercumbu mesra.
Mataku tak kunjung lelah. Seharusnya aku manfaatkan waktuku untuk istirahat walau aku sudah bosan diatas ranjang selama 5 hari ini. Suhu tubuhku meninggi. Kepalaku seperti tertusuk berkali-kali. Obat yang ku beli sepertinya tak mampu meredakan rasa sakit pada kepala dan demam yang masih berkunjung di malam hari.
Sebenarnya rasa sakit terparah yang aku rasakan ada pada dalam dada dan pikiranku. Tersiksa lebih parah dari sebelumnya. Katakan saja berlebihan, aku tidak peduli. Toh, mereka juga tidak mempedulikanku seperti dirimu yang kini jauh dari jangkauan ragaku.
Coba ku tebak, mungkin kau saat ini sedang bersenang-senang, tertawa bahagia dengan senyum dan keramahan palsumu pada mereka yang mengagumimu. Jika saja mereka tahu. Jika saja mereka melihat wajah asli dirimu yang aku ketahui, di samping sikap lembut bak madu yang mampu menarik siapapun untuk mengikutimu. Tanpa kau sadari kau bertindak dengan ego yang tinggi, termakan amarah, lalu berperan sebagai korban jika lawanmu melakukan sesuatu yang kau sebut kejahatan. Sungguh manipulatif. Peran yang sempurna untuk seseorang yang selalu ku tinggikan. Seseorang yang selalu ku puja. Seseorang yang selalu ku inginkan. Seseorang yang selalu ku butuhkan. Ironisnya, seseorang yang selalu ku cinta hingga detik ini.
Susah sekali menyingkirkanmu dari pikiranku. Susah sekali membencimu. Pion pada papan caturku mulai kau habisi. Kau tetap bermain hingga aku hancur tanpa secuil kesempatan bagiku untuk membangun harga diri kembali. Bahkan hingga saat ini kau tetap menjadi pemenang. Berpegang teguh pada keangkuhan dan selalu menyalahkanku atas bomerang yang kau ciptakan sendiri. Ikut andil besar dalam kerusakan, tapi tentu saja peran yang sempurna bagi dirimu yang selalu ingin kesempurnaan.
Malam membuka luka. Diusir dari rumah sendiri. Berkelana tanpa tujuan. Kegelapan mulai merasukiku. Mereka bilang, sakit bisa disembuhkan oleh waktu. Tapi aku tidak ingin disembuhkan. Aku ingin merasakan kepedihan yang kau beri berulang kali. Kebahagiaan yang kau taburkan berulang kali. Kenangan manis ataupun pahit. Akan aku genggam bersama untuk mengingat semuanya. Biarpun aku jatuh hingga tersisa hanya seuntai benang tipis aku akan coba meraihnya untuk mencintai dan membenci dirimu. Biarpun aku menggapai bayangan semu, aku akan coba memeluknya untuk mencintai dan membenci dirimu. Karena itu yang akan aku lakukan. Karena itu yang akan dilakukan oleh seseorang yang kosong tanpa harapan.
Lihat itu ditengah gelapnya lorong mimpi buruk, dengan mata yang indah penuh kenangan, kau tertawa nyaring. Terlihat puas melihat sosok diriku yang terbakar kesedihan.
-hujan, petir, dan guntur bercumbu mesra.
Mimpi lagi
Aku bermimpi lagi.
Beberapa bulan ini kerap kali aku bermimpi. Bukan mimpi yang indah. Justru sebaliknya, aku bermimpi cukup buruk. Cukup buruk terbangun dengan air mata, sesak dalam dada, hingga pernah aku berteriak dalam tidur. Jelas ini tidak wajar. Aku mengurungkan niatku menemui terapis. Sahabatku memaksa untuk segera berkonsultasi karena prihatin akan kondisiku sekarang, dia bilang ini lebih buruk dari sebelumnya. Banyak yang bilang aku berbeda. Aku berubah. Bukan perempuan yang mereka kenal lagi. Awalnya mereka berpikir aku mulai menemukan harapan untuk melanjutkan hidup yang lebih baik. Tentu saja, mereka senang dengan perubahanku. Setelah bertahun-tahun sifat kerasku melunak, senyumku lebih tulus, diriku menghangat, dan mulai mengkondisikan diri sebagai seseorang yang benar-benar perempuan. Tidak lama mereka melihatku murung, diriku bak vas yang mudah pecah, terlalu rapuh katanya, hidupku dirundung duka kembali bahkan lebih buruk, harapanku hilang. Sinar itu redup kembali, sama seperti masa yang lalu. 20 tahun yang tidak banyak hal baik yang mampu ku ingat. Karena yang terekam hanya hal yang pahit. Tidak ada hal yang baik. Tidak ada yang normal dalam hidupku. Hidup hanya berjalan sia-sia tak bermakna. Tidak ada yang bisa kurasakan. Benda rusak tetap akan menjadi rusak. Aku hanya sebuah wadah yang kosong.
Aku bermimpi lagi.
Pernah aku bermimpi indah. Laki-laki itu membawa hal yang tidak kuduga. Membawa harapan masuk dan mengubah segalanya. Aku merasa lebih hidup. Pertama kali dalam hidupku aku merasa akan baik-baik saja. Rasa aman dan bahagia. Aku yakin masa burukku berakhir.
Namun sayang sekali, itu hanya semu. Keberadaannya tak berlangsung lama. Harapan itu hilang. Semua yang ku yakini hancur. Yang tersisa hanya kenangan, luka yang membiru dan serpihan hati yang berdebu. Laki-laki itu pernah berkata padaku untuk tahu diri. Dia benar. Karena benda rusak akan selalu menjadi benda rusak.
Aku bermimpi lagi.
Aku lelah dengan mimpi buruk itu. Semalam aku tidak bisa tidur. Mataku terlalu takut untuk terlelap. Semakin lama malam menyiksaku. Aku hanya berjalan seperti dulu. Tidak ada yang berubah. Hanya kali ini lebih buruk. Mungkin sebaiknya aku menemui terapis. Tapi untuk apa?. Aku sudah tidak ingin percaya pada hidup lagi. Berulang kali hidup melawan diri sendiri. Dunia seakan tempat yang bukan lagi milikku. Manusia hanya makhluk pecinta ilusi. Isi jiwa manusia hanya kegelapan. Makhluk yang mudah tamak dan mudah jatuh dalam khayalan semu.
Aku hanya berharap semua ini segera berakhir.
"Terlalu putus asa" suara itu muncul kembali.
"Apa sebegitu cintanya dirimu padanya hingga kau membenci dirimu sendiri?" suara itu semakin terdengar.
Hanya dengan membenci diriku aku dapat membencinya. Karena dia adalah cermin bagiku. Ketika dia pergi, maka separuh diriku pergi. Benar, aku sangat mencintainya. Hingga aku tak sanggup melihat diriku sendiri. Aku akan mulai membencinya, itu hal yang dia inginkan. Aku akan berusaha menggenggam dua hal itu bersama.
Mari kita bertaruh, wahai suara dalam diriku, mana yang lebih unggul, cinta atau benci?
Aku bermimpi lagi,
aku menunggu di tepi pantai dengan hamparan laut yang menghitam, udara dingin, dan senja yang semakin pilu
-penulis pipinya lagi bengkak.
Beberapa bulan ini kerap kali aku bermimpi. Bukan mimpi yang indah. Justru sebaliknya, aku bermimpi cukup buruk. Cukup buruk terbangun dengan air mata, sesak dalam dada, hingga pernah aku berteriak dalam tidur. Jelas ini tidak wajar. Aku mengurungkan niatku menemui terapis. Sahabatku memaksa untuk segera berkonsultasi karena prihatin akan kondisiku sekarang, dia bilang ini lebih buruk dari sebelumnya. Banyak yang bilang aku berbeda. Aku berubah. Bukan perempuan yang mereka kenal lagi. Awalnya mereka berpikir aku mulai menemukan harapan untuk melanjutkan hidup yang lebih baik. Tentu saja, mereka senang dengan perubahanku. Setelah bertahun-tahun sifat kerasku melunak, senyumku lebih tulus, diriku menghangat, dan mulai mengkondisikan diri sebagai seseorang yang benar-benar perempuan. Tidak lama mereka melihatku murung, diriku bak vas yang mudah pecah, terlalu rapuh katanya, hidupku dirundung duka kembali bahkan lebih buruk, harapanku hilang. Sinar itu redup kembali, sama seperti masa yang lalu. 20 tahun yang tidak banyak hal baik yang mampu ku ingat. Karena yang terekam hanya hal yang pahit. Tidak ada hal yang baik. Tidak ada yang normal dalam hidupku. Hidup hanya berjalan sia-sia tak bermakna. Tidak ada yang bisa kurasakan. Benda rusak tetap akan menjadi rusak. Aku hanya sebuah wadah yang kosong.
Aku bermimpi lagi.
Pernah aku bermimpi indah. Laki-laki itu membawa hal yang tidak kuduga. Membawa harapan masuk dan mengubah segalanya. Aku merasa lebih hidup. Pertama kali dalam hidupku aku merasa akan baik-baik saja. Rasa aman dan bahagia. Aku yakin masa burukku berakhir.
Namun sayang sekali, itu hanya semu. Keberadaannya tak berlangsung lama. Harapan itu hilang. Semua yang ku yakini hancur. Yang tersisa hanya kenangan, luka yang membiru dan serpihan hati yang berdebu. Laki-laki itu pernah berkata padaku untuk tahu diri. Dia benar. Karena benda rusak akan selalu menjadi benda rusak.
Aku bermimpi lagi.
Aku lelah dengan mimpi buruk itu. Semalam aku tidak bisa tidur. Mataku terlalu takut untuk terlelap. Semakin lama malam menyiksaku. Aku hanya berjalan seperti dulu. Tidak ada yang berubah. Hanya kali ini lebih buruk. Mungkin sebaiknya aku menemui terapis. Tapi untuk apa?. Aku sudah tidak ingin percaya pada hidup lagi. Berulang kali hidup melawan diri sendiri. Dunia seakan tempat yang bukan lagi milikku. Manusia hanya makhluk pecinta ilusi. Isi jiwa manusia hanya kegelapan. Makhluk yang mudah tamak dan mudah jatuh dalam khayalan semu.
Aku hanya berharap semua ini segera berakhir.
"Terlalu putus asa" suara itu muncul kembali.
"Apa sebegitu cintanya dirimu padanya hingga kau membenci dirimu sendiri?" suara itu semakin terdengar.
Hanya dengan membenci diriku aku dapat membencinya. Karena dia adalah cermin bagiku. Ketika dia pergi, maka separuh diriku pergi. Benar, aku sangat mencintainya. Hingga aku tak sanggup melihat diriku sendiri. Aku akan mulai membencinya, itu hal yang dia inginkan. Aku akan berusaha menggenggam dua hal itu bersama.
Mari kita bertaruh, wahai suara dalam diriku, mana yang lebih unggul, cinta atau benci?
Aku bermimpi lagi,
aku menunggu di tepi pantai dengan hamparan laut yang menghitam, udara dingin, dan senja yang semakin pilu
-penulis pipinya lagi bengkak.
Langganan:
Postingan (Atom)