Tampilkan postingan dengan label Bahitra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahitra. Tampilkan semua postingan

Bahtera Palsu

Aku tidak tahu kapan hidupku berubah menjadi seperti ini. Dari dulu aku berusaha menjadi orang yang hebat dan lebih baik dari orang lain, namun pada akhirnya aku hanya merasa cukup atau tidak pernah lebih baik dari orang lain. Mungkin rasa tamak dan egois yang aku punya ada batasnya, hingga aku mencoba bermain api pada hal yang tidak sepantasnya. 

Aku ingat pada musim semi beberapa tahun yang lalu pertama kalinya membuat janji temu dengan seorang pria yang usianya di akhir 40. Tingginya hanya 2-3cm dariku, tubuh yang berisi, kepala plontos dengan polo shirt berwarna gelap. Jujur saja, terlihat sangat biasa dan tak menarik di mataku kecuali sepatu boots yang dia kenakan. Gaya bicaranya tidak cocok dengan penampilannya yang garang, suaranya terdengar lembut dan cukup melengking. Kadang terdengar senewen namun hal-hal yang dia bicarakan memperlihatkan bahwa dia orang yang cerdas. 

Awalnya semua terlihat menghibur. Gombalan dan godaan mulai menyelip diantara percakapan kami. 

"Aku tahu kamu punya selera musik yang tinggi, cukup membuatku terkejut. Itu keren!" 

Ah, kata-kata itu...

"Dari semua wanita yang aku kenal, kamu sangat pintar! Aku menyukainya" 

Ya...kata-kata seperti itu...

"Kamu benar-benar luar biasa! Aku tidak akan pernah menemukan orang seperti kamu dalam hidupku" 

Aku hanya tertawa kecil, sesekali tersenyum manis menanggapi ucapannya. Sebuah ego dan kebanggaan menempatkanku pada sebuah jebakan yang indah seolah-olah aku percaya pada segala bujuk dan rayunya. 

"Aku tidak akan pernah melepaskan kamu" 

Hari demi hari aku habiskan separuh waktu untuk pria itu. Kehidupan bersamanya berbeda, kami seperti saling menemukan satu sama lain. Aku semakin terbuai dalam mimpi serta ambisinya, seperti menumpuk daftar keinginan untuk melampaui dunia tanpa batas apapun. Aku merasa menjadi diriku sendiri, bergerak maju dengan kaki dan tekad yang aku miliki. Dia membantu memberi sedikit dorongan hingga aku mampu berjalan tanpa ragu.

Pada awalnya semua terasa menyenangkan hingga kemudian menyesakkan. Entah sejak kapan dia begitu menuntut dan menyalahkan aku atas segala kemalangan yang terjadi pada dirinya. Iya, kadang kehidupan begitu menyedihkan untuk seorang pria yang egonya telah hancur. Namun di titik inilah seoarang pria akan meninggalkan hal yang sudah sepantasnya dia korbankan. 

"Kau berbahaya untukku" 

Ah, lihat ucapannya sangat berbeda dengan waktu itu. 

"Seharusnya ini semua tidak terjadi. Pergilah!"

Ya, aku sudah tahu dari awal bahwa tidak ada keberuntungan dalam hal seperti ini. Keserakahan telah memenuhi pikiranku sehingga aku berani bertahan selama ini. Demi apa aku melakukan ini ? Kebanggaan ? Keinginan lebih baik dari orang lain ? Tidak, aku sangat buruk! Sangat buruk sehingga tanpa sadar aku mencari validasi dalam kehangatan palsu. 

"Aku harus kembali pada keluargaku" 

Benar, aku tahu persis dia akan mengatakan itu. Saat aku mulai memberikan kepercayaan dan harapan disitu pula aku mendapat kekecewaan. Tidak akan ada hal baik dalam permainan ini. Tak peduli seberapa luar biasa dan hebatnya aku untuk seseorang, aku tidak akan pernah menjadi yang terpilih. 

- slice of life

Narasi

Pernah tidak kau bayangkan jutaan jiwa sebenarnya tidak pernah memedulikan apa yang kita telah lakukan. Pernah tidak kau coba bayangkan bawah segelintir orang pun sebenarnya tidak memedulikan kita. Sampai pada titik dimana sebuah narasi diciptakan. Narasi yang membuat satu, dua, hingga berpuluh-puluh orang merasa tertarik dan menghidupkan sebuah rasa yang menggebu-gebu.

Sama dengan kita yang tidak pernah terbesit di pikiran untuk tertarik satu dengan yang lain. Kita menciptakan sesuatu. Sebuah narasi yang membuat kita menyukai satu sama lain. Narasi intim yang hanya diketahui oleh diri kita masing-masing. Sangat indah saat perasaan itu muncul, memberi kehangatan serta gejolak keinginan untuk memiliki. Tanpa tahu akan konsekuensi yang akan kita terima.

Dunia ini sungguh jenaka, mempertemukan dua orang yang berbeda. Bukan dua orang yang bertolak belakang, melainkan dua orang yang memiliki kesamaan yang luar biasa miripnya. Hal yang membuat jenaka adalah bagaimana mempertemukan dua orang ini di waktu yang salah.

Dunia ini sungguh kejam, memperlihatkan bagaimana takdir membuat sesuatu yang magis yaitu suatu ilusi yang pada akhirnya melahirkan sebuah harapan palsu. Hal yang membuat kejam adalah bagaimana dua orang ini terlalu tenggelam dalam mimpi.

Dunia ini sungguh lupa, bahwa sebuah jiwa tidak akan diam ketika terasa sakit. Bahkan jiwa-jiwa yang lain ikut merasa sakit. Entah mereka bersimpati atau hanya ikut meramai agungkan sebuah luka dari narasi yang telah ada. Hal yang membuat lupa adalah dua orang naif yang masih bermimpi melawan dunia dan jiwa-jiwa yang tidak akan abai membiarkan mereka bahagia.

Dunia ini sungguh paham, sebuah standar tidak akan berubah. Bagaimana dunia akan menyalahkan satu jiwa yang merusak sebuah ikatan jiwa yang lain. Bagaimana dunia akan melawan jiwa-jiwa keparat yang tidak sadar akan tempatnya. Bagaimana dunia akan membunuh jiwa-jiwa yang memberontak mencari kebahagiaan semu. Bagaimana dunia akan memihak satu jiwa yang terluka dan sebuah peran yang sesuai.

-anolude