Love Always Finds Its Way

Aku masih ingat dulu rasanya cinta seperti sesuatu yang hampir. Bukan tidak ada sama sekali, tapi terlihat samar. Ada rindu yang datang tiba-tiba, ada tawa yang membuat hati hangat, tapi di sela-selanya juga ada sepi, ada luka, dan pertanyaan yang terus menggantung: “Apakah ini akan bertahan?”

Perjalanan kami tidak dimulai dengan kemudahan. Kami berbeda, kami sama-sama keras kepala, dan kami sama-sama belajar bagaimana saling memahami. Ada hari di mana aku merasa menyerah adalah jalan paling mudah. Ada kalanya aku berpikir, mungkin jika aku bertemu dengannya sejak awal, semuanya akan lebih mudah. Cinta pasti akan selalu indah, pikirku.

Tapi kenyataannya, cinta tidak pernah sesederhana itu. Ia tidak tumbuh hanya dari rasa manis. Ia butuh waktu, butuh air mata, butuh luka yang menyakitkan sebelum akhirnya sembuh. Kami bahkan harus melalui pertengkaran, diam yang menyesakkan, bahkan rasa ragu, sebelum akhirnya sadar bahwa setiap langkah kecil yang kami ambil selalu membawa kami kembali satu sama lain.

Di situlah aku mulai mengerti. Cinta bukan tentang mencari jalan yang lurus tanpa hambatan, melainkan tentang keberanian untuk tetap berjalan, meski jalannya berliku. Cinta bukan hanya tentang tawa, tetapi juga tentang kesediaan untuk menangis bersama. Bukan hanya tentang menerima kebahagiaan, tetapi juga menerima kekurangan, kelemahan, bahkan sisi gelap satu sama lain untuk tetap berkata: “Aku tetap disini.”

Dan perlahan, cinta itu pun tumbuh dan bermekaran. Tidak dengan gemuruh, tidak dengan kilatan besar, melainkan dengan tenang. Seperti bunga yang sabar menunggu musim hujan berhenti sebelum akhirnya merekah. Kami menemukan cara untuk saling memilih, setiap hari, bahkan ketika itu terasa sulit.

Kini, aku bahagia dengan kami sekarang dan akan terus memilih untuk kebahagiaan ini. Bersyukur atas jalan berliku yang akhirnya membawa kami ke titik ini. Waktu dimana ia akhirnya melamarku, aku tahu jawaban itu bukan hanya tentang hari ini, tetapi juga tentang semua kemarin yang telah kami lalui bersama. Apa yang dulu terasa seperti “almost love” kini sudah menjadi cinta yang nyata. Rumah yang hangat, tempat aku ingin pulang, tempat kami ingin selalu bertumbuh bersama.


NOT SO EPILOG "HALAMAN AKAN SELALU BARU"

Cinta bukan jalan yang lurus,
ia berliku, kadang terputus.
Namun dari luka yang menusuk halus,
tumbuh kekuatan yang tak lagi pupus.

Pernah ia samar bagai senja,
hampir hilang, hampir sirna.
Namun perlahan ia menetap juga,
menjadi cahaya, menjadi rumahnya.

Cinta adalah bunga yang sabar menunggu,
tak tergesa, tak pernah layu.
Saat musimnya tiba, ia mekar penuh,
berakar dalam, takkan pernah berlalu.

Kini kutahu,
cinta selalu pulang pada hati yang setia.
Dan saat ia kembali dengan wajah yang nyata,
aku memilihnya, selamanya.


- Labuan Bajo, Oktober 2025.
aku percaya suatu saat kita akan menghabiskan waktu bersama menatap senja di masa depan di pulau ini :)

Almost Called Love

I met you like a quiet rain,
soft, unexpected, yet somehow known.
A warmth that settled in my chest,
a spark i never meant to hold.

We spoke and time bent,
moments stretching, folding into something real.
Five days, your touch like a secret,
fingertips tracing promises we didn’t dare to speak.

The night held us, breath and skin,
whispers tangled in the dark.
I felt you, closer than a memory,
like something i wasn’t ready to lose.

Too soon, too fast, too much to dream,
but tell me, do you feel it too?
A whisper, a promise, an almost love,
waiting for a chance to bloom.

- to Mr. Nice Guy on February 2025

Fleeting Flames

When your hands held mine, the world fell quiet
The glow of a soft, endless spring
We whispered truths beneath the moonlight
A fleeting spark, a fragile thing

But the breeze grew cold, your voice a haze
And shadows danced where fire once blazed
Your warmth lingered like a faint perfume
A promise stitched in the seams of bloom

Those fireflies, they burned so bright
Flickering dreams in the warmth of night
But morning came, your spark dissolved
A quiet ache, a hope unsolved

The sparks that lingered in the air
A fleeting dream we couldn’t share
You gave me hope and left it there
A ghost of love that went nowhere

Our whispered vows in stolen time
Now echoes in an empty rhyme
The glow i saw within your eyes
A fleeting truth turned to lies

Was it just me who fell too fast?
Caught in a moment we knew wouldn’t last
I opened the door, you walked away
The chaos whispered and i couldn't stay

The spark still lingers in my veins
A hollow warmth that love remains
And though the night still calls your name
The fire died and i'm to blame

- am i your backburner?

Killing the Bastard

I spend every single day thinking of a million ways to kill you over and over again. 
I want to push you into the abyss as deep as the despair i felt every day. 
I want to lock you in a coffin to show you how hard it is to breathe in life after i lost everything.
I want to smash your head that you never made to think about the consequences of what you've done. 
I want to poison you so you slowly feel the paralysis of all your limbs until you learn how my life has stopped after you crushed it.
I want to pull out both your eyeballs so that you understand what it feels like when your world turns dark.
I want to stab you countless times and listen to your screams of agony but nobody will help you. Not humans, not Gods, not angels, not even a single demon will reach out to you. 
I want to cut you into pieces and burn you with laughter, i will make sure not a single bone of yours remains in the world. 

You have ruined my life and i spend every single day thinking of a million ways to kill you over and over again in my mind. 

- bloodbath time

Bocah Penipu

Dia adalah laki-laki muda yang beranjak 25 tahun. 
Berambisi mengikat perempuan di atas levelnya dalam sebuah pernikahan.
Bocah dengan tampang pas-pasan, otak terbatas, berwawasan sempit dan pujangga bodoh penuh tekad menggebu-gebu berujung hanya mimpi di siang bolong. 
Bukan tipe karakter utama tapi menganggap diri paling penting. 
Merasa menjadi orang yang selalu berjuang sendirian dan "Si paling effort", kataku. 
Terlihat baik yang ternyata palsu. 
Kemampuan kosong namun selalu bersikap sombong. 
Obral janji penuh omong kosong. 
Sering lupa diri hingga tak tahu malu. 
Tak pernah merasa salah tiap menyulut amarah. 
"Hai, si penipu ulung! Kenapa kau tersinggung ?" 
Banyak waktu yang terbuang
Banyak kesempatan yang terbuang 
Semua penuh penyesalan hingga kerugian
Semoga karma lari mengejarmu

4th of May

aku menaruh harap
berusaha berdiri tegap
walau berpunggung luka
dinilai penuh petaka
dihujani murka dan prasangka
tapi jalanku sungguh jenaka
tawaku menyala-nyala
berpikir seperti idola 
dambaan para penggemar
tak peduli jika cemar
aku menaruh harap
untuk hilang sekejap

- keluhantakbermakna

Cinta Monyet Satu Dekade

Kembali ke masa sekolah tahun 2010. Berapa umurmu saat itu ? 13 tahun ? 14 tahun ? atau sudah 15 tahun ? Pernah merasakan bagaimana menyukai seseorang pada pertama kali ? Bagaimana perasaan itu muncul tiba-tiba tanpa permisi padamu terlebih dahulu ? Perasaan itu bisa datang kapan saja, entah pada saat kalian baru pertama bertemu atau pada saat kalian mengagumi dirinya, atau bahkan pada saat kalian telah lama berteman seperti seorang sahabat. Lalu bagaimana jika kau memang menyukai sahabatmu sendiri ? Mencoba memendam perasaan itu tidak akan mudah apalagi saat sahabatmu mengenalkan kekasihnya. 

Aku tidak pernah merasakan perasaan yang begitu melelahkan itu. Mencintai sahabatmu sendiri bukan hal yang bijak namun hal yang sangat wajar terjadi karena banyak waktu yang telah habis bersama, apalagi ketika kau menemukan bahwa sahabatmu mempunyai kelebihan yang membuat dirimu mengaguminya entah dari segi fisik, sifat maupun prestasi. Apapun bisa terjadi. 

Begitu pula dengan dia, laki-laki yang mengejarku bertahun-tahun lamanya hingga menimbulkan banyak drama diantara kami dan teman-teman kami. Aku menghabiskan waktuku untuk bertemu dengan banyak laki-laki sedangkan dia menghabiskan waktu dengan satu hingga dua orang perempuan saja hingga hubungan kandas dengan alasan dia tidak dapat mencintai orang lain karena mencintai diriku. 

Sebuah hal yang sangat membuat diri ini berharga karena dicintai dan diharapkan sedemikian rupa. Hingga di tahun 2020, setelah semua berlalu namun cintanya tidak pernah berlalu. Bahagia bukan akhirnya setelah gagal percintaan bertahun-tahun akhirnya dipertemukan dengan laki-laki yang mencintai dirimu begitu dalam dan menerima dirimu apa adanya. Sungguh sebuah kisah romantis ala drama korea. 

"Karena di duniaku hanya ada kamu" katanya penuh keyakinan dan harapan. Muncul impian sentimental yang terlahir hanya dari jawaban yang bermakna itu. 

Mencintai sahabatmu sendiri seperti mencintai orang yang telah lama kau kenal. Begitu mudah tanpa ada usaha yang lebih untuk menyelami satu sama lain. Itulah yang aku pikirkan sebelum semua menjadi naas. Hancur lebur semua harapan dan impian yang dibangun bersama selama bertahun-tahun. Terbuang sia-sia menyisakan pahit dan luka yang begitu dalam. Aku lupa bahwa ternyata tidak lah mudah menghadapi pasangan yang merupakan sahabatmu sendiri. Apalagi jika dia mengorbankan hubunganmu demi mengabdi pada ketidakwarasan menghadapi realita hidupnya sendiri. 

Setelah setahun aku tahu keberadaanku yang dulunya tak tergantikan kini terisi dengan harapan baru. Beralaskan sebuah kesedihan yang dia selalu jual, seorang perempuan terlena untuk sukarela memberi hati hingga bersedia menjadi sosok pengasuh pengganti Ibunya yang baik hati. Dia bahkan bersedia mengenalkan perempuan yang baru saja dikenal pada Ayah yang selalu dia kesali.

Cinta satu dekade yang sering dia agungkan hanya sebuah penggalan kisah fiktif penuh pengkhianatan dan kekecewaan.  

- almost 3 years wasted 2024

Sebuah Fantasi

Mungkin malam itu adalah malam terpanas yang pernah ada,

pulau dewata dengan segala keindahan yang menggoda,

hingar bingar cahaya, riuh suara musik, dan hentakan tubuh yang menyatu dalam setiap nada.

Sebotol whisky dan sebuah tatapan yang tersirat,

kedua manusia itu akhirnya bertemu dalam setiap tegukan hasrat. 

Sang Pria mengambil ruang di sebelahnya, 

Sang Wanita meraba sisi tubuh dari balik kainnya. 

Tubuh mereka berdekatan tak kuasa menahan rasa.

Di antara pengar dan sadar mereka menjauhkan diri dari keramaian, 

hilang menuju pelukan, 

tenggelam dalam rangkaian cumbuan, 

ah, malam singkat yang penuh desahan. 

Sebuah khalayan kini menjelma utuh. 

Tidak ada lagi sendirian berpeluk. 

Kini bebas berteriak memanggil namanya, 

sebuah janji berikrar di antara keduanya. 

Sang Pria kian menghilang meninggalkan kenangan, 

Sang Wanita terus menyimpan kenangan. 


🎶 Wildest Dream by Taylor Swift


- halusinasi 2023

Bahtera Palsu

Aku tidak tahu kapan hidupku berubah menjadi seperti ini. Dari dulu aku berusaha menjadi orang yang hebat dan lebih baik dari orang lain, namun pada akhirnya aku hanya merasa cukup atau tidak pernah lebih baik dari orang lain. Mungkin rasa tamak dan egois yang aku punya ada batasnya, hingga aku mencoba bermain api pada hal yang tidak sepantasnya. 

Aku ingat pada musim semi beberapa tahun yang lalu pertama kalinya membuat janji temu dengan seorang pria yang usianya di akhir 40. Tingginya hanya 2-3cm dariku, tubuh yang berisi, kepala plontos dengan polo shirt berwarna gelap. Jujur saja, terlihat sangat biasa dan tak menarik di mataku kecuali sepatu boots yang dia kenakan. Gaya bicaranya tidak cocok dengan penampilannya yang garang, suaranya terdengar lembut dan cukup melengking. Kadang terdengar senewen namun hal-hal yang dia bicarakan memperlihatkan bahwa dia orang yang cerdas. 

Awalnya semua terlihat menghibur. Gombalan dan godaan mulai menyelip diantara percakapan kami. 

"Aku tahu kamu punya selera musik yang tinggi, cukup membuatku terkejut. Itu keren!" 

Ah, kata-kata itu...

"Dari semua wanita yang aku kenal, kamu sangat pintar! Aku menyukainya" 

Ya...kata-kata seperti itu...

"Kamu benar-benar luar biasa! Aku tidak akan pernah menemukan orang seperti kamu dalam hidupku" 

Aku hanya tertawa kecil, sesekali tersenyum manis menanggapi ucapannya. Sebuah ego dan kebanggaan menempatkanku pada sebuah jebakan yang indah seolah-olah aku percaya pada segala bujuk dan rayunya. 

"Aku tidak akan pernah melepaskan kamu" 

Hari demi hari aku habiskan separuh waktu untuk pria itu. Kehidupan bersamanya berbeda, kami seperti saling menemukan satu sama lain. Aku semakin terbuai dalam mimpi serta ambisinya, seperti menumpuk daftar keinginan untuk melampaui dunia tanpa batas apapun. Aku merasa menjadi diriku sendiri, bergerak maju dengan kaki dan tekad yang aku miliki. Dia membantu memberi sedikit dorongan hingga aku mampu berjalan tanpa ragu.

Pada awalnya semua terasa menyenangkan hingga kemudian menyesakkan. Entah sejak kapan dia begitu menuntut dan menyalahkan aku atas segala kemalangan yang terjadi pada dirinya. Iya, kadang kehidupan begitu menyedihkan untuk seorang pria yang egonya telah hancur. Namun di titik inilah seoarang pria akan meninggalkan hal yang sudah sepantasnya dia korbankan. 

"Kau berbahaya untukku" 

Ah, lihat ucapannya sangat berbeda dengan waktu itu. 

"Seharusnya ini semua tidak terjadi. Pergilah!"

Ya, aku sudah tahu dari awal bahwa tidak ada keberuntungan dalam hal seperti ini. Keserakahan telah memenuhi pikiranku sehingga aku berani bertahan selama ini. Demi apa aku melakukan ini ? Kebanggaan ? Keinginan lebih baik dari orang lain ? Tidak, aku sangat buruk! Sangat buruk sehingga tanpa sadar aku mencari validasi dalam kehangatan palsu. 

"Aku harus kembali pada keluargaku" 

Benar, aku tahu persis dia akan mengatakan itu. Saat aku mulai memberikan kepercayaan dan harapan disitu pula aku mendapat kekecewaan. Tidak akan ada hal baik dalam permainan ini. Tak peduli seberapa luar biasa dan hebatnya aku untuk seseorang, aku tidak akan pernah menjadi yang terpilih. 

- slice of life

Not Suit


Spent 20 dollar for my collar

Drink coffee till it taste bitter

Change grey to pastel color

Getting older with soft and tender  

It doesn’t suit me

It doesn’t suit me

They told me to be a good woman

Waiting for the right man

Perfect with a diamonds

It will never make me feel human

It doesn’t suit me

It doesn’t suit me

The cage is small, may it be bigger ?

Crawling for the taste of beer

Liquor in my mouth, oh wasted youth

Lovers sing like a piper, turn into a killer

Damn, it doesn’t suit me

It doesn’t suit me

The cage is small, may it be bigger ?

Crawling for the taste of beer

Liquor in my mouth, oh wasted youth

Iam done being a prayer, i will die faster

Fuck, it doesn’t suit me

It doesn’t suit me

The cage is small, may it be bigger ?

Crawling for the taste of beer

Liquor in my mouth, oh wasted youth

Lovers sing like a piper turn into a killer

Your words hurt me

Iam falling, it never suit me

 

Narasi

Pernah tidak kau bayangkan jutaan jiwa sebenarnya tidak pernah memedulikan apa yang kita telah lakukan. Pernah tidak kau coba bayangkan bawah segelintir orang pun sebenarnya tidak memedulikan kita. Sampai pada titik dimana sebuah narasi diciptakan. Narasi yang membuat satu, dua, hingga berpuluh-puluh orang merasa tertarik dan menghidupkan sebuah rasa yang menggebu-gebu.

Sama dengan kita yang tidak pernah terbesit di pikiran untuk tertarik satu dengan yang lain. Kita menciptakan sesuatu. Sebuah narasi yang membuat kita menyukai satu sama lain. Narasi intim yang hanya diketahui oleh diri kita masing-masing. Sangat indah saat perasaan itu muncul, memberi kehangatan serta gejolak keinginan untuk memiliki. Tanpa tahu akan konsekuensi yang akan kita terima.

Dunia ini sungguh jenaka, mempertemukan dua orang yang berbeda. Bukan dua orang yang bertolak belakang, melainkan dua orang yang memiliki kesamaan yang luar biasa miripnya. Hal yang membuat jenaka adalah bagaimana mempertemukan dua orang ini di waktu yang salah.

Dunia ini sungguh kejam, memperlihatkan bagaimana takdir membuat sesuatu yang magis yaitu suatu ilusi yang pada akhirnya melahirkan sebuah harapan palsu. Hal yang membuat kejam adalah bagaimana dua orang ini terlalu tenggelam dalam mimpi.

Dunia ini sungguh lupa, bahwa sebuah jiwa tidak akan diam ketika terasa sakit. Bahkan jiwa-jiwa yang lain ikut merasa sakit. Entah mereka bersimpati atau hanya ikut meramai agungkan sebuah luka dari narasi yang telah ada. Hal yang membuat lupa adalah dua orang naif yang masih bermimpi melawan dunia dan jiwa-jiwa yang tidak akan abai membiarkan mereka bahagia.

Dunia ini sungguh paham, sebuah standar tidak akan berubah. Bagaimana dunia akan menyalahkan satu jiwa yang merusak sebuah ikatan jiwa yang lain. Bagaimana dunia akan melawan jiwa-jiwa keparat yang tidak sadar akan tempatnya. Bagaimana dunia akan membunuh jiwa-jiwa yang memberontak mencari kebahagiaan semu. Bagaimana dunia akan memihak satu jiwa yang terluka dan sebuah peran yang sesuai.

-anolude 

Berlagak jadi Tuhan

Terkadang manusia itu terlalu kukuh.
Memilih mempertahankan sesuatu yang diyakini.
Merasa paling benar.
Merasa paling pintar.
Merasa paling tahu apa yang terbaik untuk hidupnya.
Tak sadar dia berlagak menjadi Tuhan.

Pintu hatinya tertutup,
pada segala kemungkinan.
Hatinya membatu.
Hal-hal baik disekitarnya terasa terabaikan.

Kau itu siapa?

-t

Rindu Itu Terlalu Kuat

Berat memang rasanya menahan rindu,
apalagi jika rindu itu masih menjadi milikmu.
Ketahuilah sayang, aku terlalu kuat untuk itu.

Mereka bilang aku menjadi gila karena rindu,
hingga berulang-ulang tak jera karena kamu.
Ketahuilah sayang, aku terlalu kuat untuk itu.

Persetan! Ini tidak melulu soal rindu!.
Ini soal bagaimana aku menyelami pilu,
bagaimana menghabiskan waktu dalam menunggu,
bagaimana doa betubi-tubi ku ucapkan untuk kamu.

Walau kamu memang sudah tak ingin lagi menemani.
Ketahuilah sayang, aku terlalu kuat untuk ini.

Seperti rasa bibirmu yang samar-samar masih melekat di lidah,
seperti air mata yang masih jatuh satu-satu.

Ketahuilah sayang, rindu itu terlalu kuat.


-tertanda
selamat malam Tuan Pecinta Kopi.


How many?

"How many suicide does it take for you to realize, the shit you say hurts."

-13 reasons why

Words to You.

Your burning and smoldering dreams,
Your heartless wishes,
I hate them all.

Your hand slipping away from mine,
Your shadows turning away from me,
You are not turning back again,
I will not forgive.

As long as i live.
As long as i live.

-jab tak hai jaan 

Sebuah Ikrar

Sebuah angka adalah simbol yang digunakan pada bilangan untuk menggambarkan nomor pada notasi di sistem bilangan. Diciptakan untuk mempermudah kehidupan manusia. Begitu yang aku pelajari. Aku mempunyai dua angka favorit. Dari bilangan 1-10 aku menyukai angka 9. Konon angka 9 adalah angka keberuntungan. Mengandung misteri, teka teki, bintang ganda dan memiliki arti kekal. Nomor rumahku saja angka 9. Nomor ponselku juga ada angka 9. Angka favoritku yang kedua adalah angka 30. Mungkin karena tanggal lahirku jatuh pada angka 30. Angka 30 adalah tanda usia seseorang memasuki benar-benar masa dewasanya. 30 juga bagian dari Kitab Bilangan dalam Alkitab Ibrani dan Perjanjian Lama di Alkitab Kristen, termasuk dalam kumpulan Kitab Taurat yang ditulis oleh Musa, dan Al-Quran yang juga terdiri dari 30 juz.

Angka 30 kini menjadi salah satu kenangan yang tak bisa ku lupakan. Angka itu ada pada nomor apartemenmu, pada kenangan saat hari ulangtahunku, juga tanggal dimana sebuah ikrar yang kita ucapkan pada sore yang diwarnai langit abu-abu, derasnya hujan dan butiran air yang menghiasi kaca jendela ruangan 3x4 berdinding gelap. Tanggal itu adalah hari dimana kita memberikan segalanya untuk bersama. Hari dimana kita berjanji melebihi janji yang pernah kita buat. Hari dimana aku seutuhnya milikmu dan kau seutuhnya milikku. Hari dimana sebuah harapan menjadi satu. Hari dimana benang takdir telah terikat dengan suci. Hari dimana kita lebih dari sepasang kekasih. Hari dimana seluruh hidupku berubah. 

Kau disana dengan sedikit gugup berlagak tegas memintaku untuk menjadi milikmu. Kau bilang ini pertama kali membuat permintaan seperti ini. Dan tentu saja pertama kalinya aku diminta seperti itu. Apa kau melihat wajahku yang terkejut saat tiba-tiba mendengar permintaanmu. Jika saja aku tidak pura-pura bersikap santai, kau akan melihat diriku habis dilahap rasa malu. Rasa senang, gugup dan sedikit takut. Namun setelah beberapa lama, akhirnya ikrar itu terucap. Sebuah akad yang sangat sederhana, sangat biasa, sangat santai, serta sangat tertutup. Kami pun resmi bersatu. 

Perempuan sepertiku menganggap pernikahan adalah sesuatu yang sangat sakral. Bukan hal yang mudah untuk ku lakukan apalagi dengan berbagai sejarah yang pernah aku alami. Ada ketakutan terbesar yang aku rasakan. Namun saat kau memintaku aku bahkan tidak ragu. Aku juga menginginkanmu seperti kau menginginkanku bahkan mungkin lebih besar dari itu. 
Aku bukan perempuan pengagum sebuah pernikahan yang mewah, indah, dan meriah. Beberapa kali aku berlagak menyukai hal-hal seperti itu. Mencoba seperti perempuan lain yang sangat suka berandai-andai merasakan pernikahan indah untuk sekali seumur hidup. Tapi jika dipikir-pikir itu bukan hal ku inginkan. Bahkan bagiku tidak perlu hal semacam itu untuk benar-benar bersatu. Satu ikrar suci mampu mengikat dua insan untuk dapat hidup bersama. Sederhana itu.Saat itu aku merasakannya. Kita terikat satu sama lain. Tidak ada halangan. Tidak ada keraguan. Tidak ada ketakutan. Kita merasa bebas. 

Ingatkah kau saat kita akhirnya berada di tempat tidur kamarmu, diatas kasur busa tempat biasa kita habiskan banyak waktu berdua. Aku sadar sepersekian detik dan menemukan dua tubuh tak berbusana. Kau memelukku erat memberiku kehangatan disaat hujan masih saja deras mengguyur kota ini. Aku bisa melihatnya dari jendela lebar persegi tepat diatas kepala kita. Bibirmu menyentuh setiap inci tubuhku lalu berakhir di bibirku. Kita menikmatinya. Menikmati alur yang terjadi setelahnya. Tak ada jarak yang melebar. Kita sama-sama terkunci. Kita terlelap dalam kasih yang dalam. Aku harap hujan selalu datang membawa kebahagiaan seperti ini. Bukan membawa banjir yang menjebak kita pada malam hari hingga kau merasakan sakit yang hebat pada kepalamu. Kita pun tertawa saat mengenangnya kembali.

Kembalikan aku pada masa itu. Saat-saat bahagia yang kita ciptakan. Kehangatan yang kita wujudkan. Kepada rindu yang selalu kita elu-elukan. Tawa serta kekonyolan yang sering kita buat. Aku merindukannya. Sangat merindukannya. Semua kenangan membawa tangis yang begitu deras seperti hujan pada hari itu. Terasa begitu singkat, hingga kita saling menyakiti walau banyak kesempatan untuk dapat menjalin kebersamaan kembali. Kau memilih untuk pergi. Sementara aku memilih untuk tinggal. Terlalu keras kepala untuk meneruskan, terlalu keras kepala untuk meninggalkan. Semua harapan hancur lebur seperti ikrar yang kau putus paksa. Bahkan bagimu akad yang pernah kita lakukan tidak lebih besar daripada sebuah janji yang dulu pertama kali kita buat. Tapi maaf, bagiku akad itu adalah hal yang penting, terlalu besar dan segalanya. 

Aku mengenang tanggal ini. Aku mengenang momen ini. Aku mengenang kita. Aku mengenangmu. Aku merindukanmu. Aku mencintaimu. 


-Dokumenter tanggal 30 Mei. 

Tengah Malam

Enam jam perjalanan aku habiskan untuk datang ke kota ini lagi. Desember lalu aku meninggalkannya untuk kabur dari hal-hal menyakitkan yang sudah terjadi. Situasi sulit, tidak berujung dan menjebakku hingga saat ini. Kota ini masih sama. Masih ramai. Masih dengan udara yang panas. Masih dengan lalu lintas yang berantakan. Masih dengan kemacetan yang menyebalkan. Masih dengan rasa yang sama. Masih dengan kenangan yang sama. Yang berubah hanya satu, dia.

"Jadi mampir ke rumah?" Suara halus wanita diseberang sana membuyarkan lamunanku di tengah kemacetan. Wanita itu menelepon menanyakan apa aku sudah sampai atau belum.
"Iya tante, ini masih macet" jawabku.
"Ya sudah hati-hati" Suara itu mati.
Ku letakkan ponsel di kursi sebelah. Aku lelah, pikirku. Seharusnya aku beristirahat dulu sebelum berkendara ke kota tetangga. Setelah check in hotel, aku hanya masuk kamar untuk meletakkan tas lalu membersihkan diri. Sore hari adalah jam orang-orang pulang kantor tentu benar-benar akan menghabiskan waktu yang panjang. Butuh sejam aku sampai kesana. Aku membayangkan diriku tidur di atas empuknya kasur hotel. Lumayan besar untuk tidur sendiri. Aku sangat berterimakasih pada saudaraku yang memberikan voucher gratis menginap di hotel ini. Karena tidak mungkin aku mampu merogoh saku untuk membayar kamar mewah ini.

Sore itu sesampai disana, bukan hal yang menyenangkan kembali ke rumah. Rumah kedua kurasa, entahlah aku tidak dapat menamainya rumah tempatku untuk pulang. Dua tahun sudah ku habiskan waktuku disini. Bersama dengan Ayahku yang tidak ku kenal, berserta keluarganya. Bukan hal mudah. Sedikit murka karena aku menghilang dari hampir dua bulan yang lalu. Diceramahi habis-habisan bukan hal yang menyenangkan. Mungkin aku sedikit memperlihatkan wajahku yang menyesal atas tindakanku dan ya sedikit air mata yang ku buat agar mereka percaya. Jujur saja, aku tidak begitu mendengarkan apa ocehannya. Pikiranku melayang ke tempat yang lain. Air mata itu untuk hal yang lain. Aku merindukan dia.

Ku tancapkan gas mobil berkendara dengan kencang. Suara Elvis Presley yang terputar tidak ku hiraukan. Aku sudah meninggalkan kota tetangga kembali menuju kota ini. Awalnya aku berpikir untuk langsung pulang ke hotel tapi tidak. Ada tempat yang ingin ku datangi. Tempat dimana semua kenangan terbuat. Tempat dimana semua pernah ada aku dan dia. Disinilah aku, berputar-putar di jalanan komplek dekat apartemen timur kota ini. Sesekali berhenti, sesekali jalan. Lalu aku berhenti tepat di dekat apartemen yang pernah aku tempati. Ada beberapa yang baru. Ruko di bawah mulai terisi. Jalan sampingnya ditutup mobil-mobil untuk parkir. Jalanan terlihat sepi. Pukul hampir tengah malam, aku diam di dekat apartemennya.

Aku mengirim pesan padanya,

Aku ada di dekat tempatmu, bisa kita bertemu?. 11.53pm

Bukankah sudah ku bilang, aku tidak ingin bertemu. 11.54pm

Aku benar-benar ingin bertemu. 11.54pm

Aku akan bertemu jika rasa yang kau punya untukku sudah hilang. 11.55pm

Aku masih menyayangimu. 11.56pm

Kalau begitu lupakan, aku tidak akan turun dan bertemu denganmu. 11.57pm

Kenapa kau harus seperti ini?. 11.57pm

Dia membalas lagi dengan kata-kata yang dingin seperti biasanya. Untuk sekian kali, kata-kata itu mengancurkanku. Tanganku gemetar. Dadaku terasa sesak.

Tidakkah aku berharga untukmu?. 12.05am

Beberapa menit berlalu, tidak ada balasan.
Malam itu semua terasa begitu menyakitkan. Kedatanganku sia-sia. Aku menghidupkan mobil melangkah pergi. Tepat setelah kata-kata itu terbaca, aku sungguh merasa tidak pernah ada aku di masa depannya.
Malam itu jalanan sepi. Di perjalanan menuju hotel, aku menangis kencang.


-Taman Angsa, 4 Februari 2017

Potongan Puisi

Dulu,
Aku tak jemu menjilat lidahmu
Biar tajamnya melebihi pedang
Aku tak bosan melumat bibirmu
Biar ocehnya lebih kasar dari si jalang

Dan kini,
Aku mati ditikam bahasamu

-ruangmetafor

Masih Mencari Sebuah Alasan

Aku ingin memiliki berbagai
alasan untuk terus berjalan.
Aku ingin memiliki berbagai
alasan untuk terus hidup.
Tapi aku tak menemukan
satupun alasan.
Jadi, untuk apa hidup?

                                     -sisi pandang Mahya dan penulis.


Mencari Sebuah Alasan

Pernahkah kau mendengar kisah tentang seorang anak laki-laki yang kerap kali mencari sebuah alasan untuk mempertahankan keberadaannya?
Aku pernah membacanya pada buku lusuh yang ku temukan di sudut rak perpustakaan daerah beberapa tahun yang lalu. Saat itu aku masih kecil, aku tidak mengerti arti dari kisah itu. Atau mungkin sampai sekarang akupun tidak mengerti.
Jika kau tidak pernah, maka aku akan menceritakannya.

Alkisah, seorang anak laki-laki bernama Mahya tinggal di panti asuhan setelah kehilangan orangtuanya. Ibunya wanita separuh timur tengah meninggal karena penyakit, sedangkan Ayahnya bunuh diri setelah istri tercintanya meninggal. Selama dua belas tahun dia diasuh oleh seorang wanita paruh baya yang dipanggil Suster Anna, yang selalu dianggap sebagai pengganti ibunya. Meskipun dia selalu mendambakan sebuah keluarga seperti anak-anak yang datang ke gereja setiap minggu, dia tetap merasa hidupnya lengkap asal Suster Anna selalu bersama. Mahya anak yang ceria, dia suka bermain layang-layang, bermain bola walau hujan, sesekali menjahili anak perempuan hingga menangis, atau memanjat pohon dekat gereja untuk membolos sekolah. Suster Anna memang sangat menyayangi Mahya.
Wanita itu pernah berkata, "sesekali kau mungkin iri dengan mereka, tapi aku akan tetap disini menjagamu, jadi kau tidak perlu iri". Senyuman Mahya selalu membawanya pada kebahagiaan.
Hingga hari dimana Mahya mulai kehilangan senyumnya. Suster Anna terbaring damai dalam kubur. Mahya kehilangan orang yang dia cintai.

Dia memutuskan untuk pergi meninggalkan panti asuhan. Hidup sebatang kara bukanlah hal yang mudah. Berjalan tanpa arah. Berjalan tanpa tujuan, Mahya harus mencari tempat untuk menumpang tidur dan mencari makan. Demi membeli makan dia harus bekerja, kadang dia mencuri, dan kadang dia mengemis. Tidurpun hanya berbantal tangan, beralas koran, dan selimut lusuh yang dia temukan di tumpukan barang bekas.

Namun, seketika hidupnya mulai berubah saat rombongan sirkus menawarinya sebuah pekerjaan. Pekerjaan yang mudah dengan upah kecil, namun Mahya mendapatkan kehangatan disana. Seperti, seorang pria besar berhidung besar pelempar pisau, menganggap Mahya sebagai anaknya sendiri. Gadis kecil berwajah boneka menganggap Mahya sebagai kakaknya. Pesulap cantik yang baik hati mengajari Mahya bermain sulap. Hal ini mengobati Mahya akan luka kehilangan orang tercinta. Dua tahun berlalu, berkeliling dunia bersama rombongan sirkus yang kini menjadi keluarganya. Tepat di musim dingin akhir tahun, panas api merah melahap habis sirkus mereka. Pria pelempar pisau itu mengorbankan diri melindungi Mahya, mendorongnya keluar dari kobaran api. Tidak tahu menahu mengapa peristiwa itu bisa terjadi. Hingga api padam, Mahya mencari apapun yang tersisa. Dia tersadar, mereka semua telah tiada. Keluargaya sudah tiada. Dinginnya musim ini membekukan jiwanya. Mahya kehilangan lagi orang yang dia cintai.

Tuhan tidak pernah berada di pihaknya. Berkali-kali dia mengutuk diri sendiri bahwa dirinya tidak pantas untuk dilahirkan. Dia kehilangan segalanya. Ibunya, Ayanya, Suster Anna, Pria Besar, Gadis Boneka, Pesulap Cantik dan seluruh keluarga sirkusnya. Mereka semua pergi. Mahya sendirian.
Dia kembali berjalan tanpa arah. Berjalan tanpa tujuan.
Suatu hari, Mahya terbangun dibawah pohon besar diatas bukit. Tak lama seorang pengemis datang mendekatinya.
Wanita itu bertanya, "Siapa namamu?"
Dia menjawab, "Mahya"
Kemudian wanita itu tersenyum, "Kau tahu apa arti dari namamu?"
Mahya menggeleng tidak tahu.
"Artinya hidup"
Angin berhembus lebih kencang dari biasanya, memberikan jeda cukup lama diantara mereka.
Kemudian wanita itu bertanya lagi, "Jadi kau hidup untuk apa?"
Mahya terdiam. Pertanyaan wanita itu seakan-akan menggerogoti dirinya. Pikirannya sibuk bekerja mencari jawaban. Alasan keberadaanya. Alasan dia tetap bertahan.
Mahya segera berlari meninggalkan pengemis itu menuruni bukit menuju kota. Dia sibuk menanyakan orang satu per satu. Sebuah pertanyaan yang tak kunjung mendapatkan jawaban.
"Kau hidup untuk apa?"
Perlukah alasan untuk itu?
Apa arti keberadaannya?
Mengapa dia tetap bertahan setelah semua kehilangan yang dia alami?
Lalu, hidup untuk apa?

Aku tak mengerti lanjutan dari kisah tersebut. Buku yang kubaca tidak sampai tamat. Halaman berikutnya telah tersobek. Mungkin ulah anak-anak yang tidak menghargai sebuah buku. Aku tidak tahu akhir dari kisah Mahya. Apakah dia akhirnya menemukan jawaban?. Apakah dia tetap bergumul didalamnya?. Apakah akhirnya dia memiliki keputusan lain?.

Saat kau terlalu banyak kehilangan, apakah ada alasan lagi untuk hidup?.
Tanda tanya itu belum terjawab. Kemudian aku terlelap.